Minggu, 20 Januari 2013

PENDIDIKAN PADA MASA ROSULULLAH DAN KHULAFAUR RASYIDIN

1. Pendidikan Islam Pada Masa Rosulullah Dan Sahabat

Sejarah pendidkan  Islam pada masa Nabi Muhammad SAW terbagi dua periode,Mekkah dan Madinah. Intisari pendidikan Islam pada periode itu disandarkan pada Al-qur’an dan Sunnah. Rosul adalahguru, pelopor pendidikan Islam. Pendidikan masa Rosul menekankan pemahaman dan penghafalan Al-qur’an,cara pengajarannya sangat sederhana dengan bertatap langsung anatar pendidik dan peserta didik,sehingga pelajaran lebih cepat dipahami.
Pada periode Makkah, Rosul mengajarkan pendidikan mula-mula kepada karib kerabat dan teman sejawatnya dengan sembunyi-sembunyi. Setelah banyak yang memeluk Islam  beliau mendirikan lembaga pendidikan Islam yang pertama yaitu Darul Arqom rumah milik sahabt  Al-Arqam bin Abil Arqam Al-Makhzumi untuk pertemuan sahabat-sahabat dan pengikut-pengikutnya dalam penyampaian ajaran Islam untuk menghindari perlakuan buruk dari kaum kafir Quraisy. Disinilah  Nabi mengajarkan dasar-dasar atau pokok-pokok agama Islam kepada sahabat-sahabatnya dan membacakan wahyu-wahyu Al- Qur’an. Sebagai nabi dan guru,beliau membimbing para sahabat untuk menghafal, menghayati dan mengamalkan ayat-ayat suci Al-Qur’an di samping itu juga mengajarkan nilai-niali tauhid ke dalam jiwa setiap individu muslim,agar jiwa mereka terpancar sinar tauhid dan tercermin dalam perbuatan dan tingkah laku dalam kehidupan sehari-hari. Yang kedua Kuttab yang sudah ada sebelum agama Islam datang berfungsi mengajarkan baca tulis dengan teks dasar puisi-puisi Arab, dan sebagian gurunya non muslim ini merupakan lembaga pendidikan dasar hanya mengajarkan baca tulis. Mulanya Kuttab berlangsung di rumah-rumah para guru atau di perkarangan sekitar masjid dan kuttab berfungsi sebagai pengajaran Al- Qur’an dan dasar-dasar agama Islam. Guru yang mengajarkan dari umat Islam sendiri, ini merupakan kelanjutan dari kuttab pertama, setelah siswa memiliki kemampuan baca tulis. Kuttab yang kedua ini siswa diajari pemahaman Al-Qur’an, dasar-dasar agama Islam, ilmu gramatika bahasa arab, dan aritmatika. Sementara Kuttab yang dimiliki oleh orang-orang yang lebih mapan kehidupannya, materi tambahannya adalah menunggang kuda dan berenang. Guru disebut mu’allim atau muaddib, serta tidak dibayar.
Pada periode  Madinah, pokok pembinaan Islam dapat dikatakan sebagai pendidikan social dan politik yang merupakan kelanjutan dari pendidikan tauhid yaitu pembinaan di bidang pendidikan social dan politik agar dijiwai oleh ajaran tauhid, sehingga akhirnya tingkah laku social politiknya merupakan cerminan dan pantulan sinar tauhid tersebut. Ajaran Islam yang berkenaan dengan kehidupan masyarakat banyak turun di Madinah. Kebijaksanaan Nabi dalam mengajarkan Al-Qur’an adalah menganjurkan pengikutnya untuk menghafal dan menuliskan ayat-ayat Al-Qur’an sebagaimana yang diajarkannya. Ketika Rosul dan sahabat hijrah kemadinah, salah satu program pertama adalah pembangunan sebuah Masjid,eksistensi Kuttab  tetap dimanfaatkan materi penyajianny lebih dikembangkan seiring dengan semakin banyaknya wahyu yang diterima,misalnya materi jual beli, keluarga, sosiopolitik, tanpa meninggalkan materi yang sudah biasa dipakia di Makkah seperti tauhid dan akidah. Masjid yang dibangun pertama adalah Masjid At-Taqwa di Quba’. Rosul membangun sebelah utara masjid Madinah dan Masjidil Haram yang disebut As-Syuffah. Tujuan pembangunan Masjid untuk memajukan dan menyejahterakan kehidupan umat Islam. Selainitu juga multifungsi sebagai tempat ibadah, kegiatan social-politik,bahkan lebih dari itu sebagai pusat dan lembaga pendidikian Islam dengan system halaqah (lingkaran). Syekh duduk dekat dinding atau pilar masjid, siswanya(ashhabush shuffah) duduk di depannya membentuk lingkaran dan lutut saling bersentuhan. Metode diskusi dan dialog kebanyakan dipakai dalam berbagai halaqah.Evaluasinya berbentuk tanya jawab dan kadang syekh memeriksa catatan murid-muridnya, mengoreksi dan menambah seperlunya. Kebijakan Nabi selanjutnya yaitu mempersatukan berbagai potensi yang semula saling berserakan bahkan saling bermusuhan. Langkah ini dituangkan dalam dokumen yang lebih popular disebut piagam Madinah. Dengan adanya piagam tersebut terwujudlah keadaan masyarakat yang tenang, harmonis dan damai.
Kurikulum pendidikan Islam pada periode Mekkah maupun Madinah adalah Al-Qur’an, yang Allah wahyukan sesuai  dengan kondisi dan situasi, kejadian dan peristiwa yang dialami umat Islam saat itu. Karena itu dalam praktiknya tidak saja logis dan rasional tetapi juga secara fitrah dan pragmatis. Hasil dari carayang demikian itu dapat dilihat dari sikap rohani dan mental para pengikutnya yang dipancarkan dalam sikap hidup bermental semangat yang tangguh, tabah dan sabar,tetapi akltif dalam memecahkan masalah yang dihadapinya.
                Metode yang dikembangkan oleh Nabi adalah : 1). Dalam bidang keimanan ; melalui Tanya jawab dengan penghayatan yang mendalam dan didukung oleh bukti-bukti yang rational dan ilmiah. 2). Materi ibadah : disampaikan dengan metode demonstrasi dan peneladanan sehingga mudah diikutu masyarakat. 3). Bidang Akhlak : Nabi menitik beratkan pada metode peneladanan. Nabi tampil dalam kehidupan sebagai orang yang memiliki kemuliaan dan keagungan baik ucapan maupun perbuatan.
      Metode yang digunakan Rasulullah dalam mendidik sahabatnya antara lain: (1) metode ceramah, menyampaikan wahyu yang baru diterimanya dan memberikan penjelasan-penjelasanserta keterangan-keterangannya; (2) dialog, misalnya dialog antara Rasulullah dengan Mu’az ibn Jabal ketika Mu’az akan diutus sebagai kadi ke negeri Yaman; (3) diskusi ata tanya jawab, sering sahabat bertanya kepada Rasulllah tentang suatu hukaum, kemudian rsul menjawab; (4) metode perumpamaan, misalnya orang mukmin itu laksana satutubuh, bila sakit salah satu anggota tubuh maka anggota tubuh lainnya akan turut merasakannya; (5)metode kisah, misalnya kisah beliau dalam perjalanan isra’ dan miraj; (6) metode pembiasaan, membiasakan kaum muskimin shalat berjamaah; (7) metode hafalan, misalnya para sahabat dianjurkan untuk menjaga al-Qur’an dengan menghafalnya.

       2. Pendidikan Islam Pada Masa Kulafaur Rosidin
Khulafaur Rasyidin adalah wakil-wakil atau khalifah-khalifah yang benar atau lurus, pewaris kepemimpinan Rasulullah selepas wafat. Para tokoh ini merupakan orang-orang yang arif bijaksana, jujur dan adil dalam memberikan
Keputusan dan menyelesaikan masalah-masalah yang timbul dalam masyarakat.
Setelah Rasulullah wafat, peradaban Islam memberi contoh bagaimana cara mengendalikan negara dengan bijaksana (hikmat). Kebijaksanaan ini adalah politik yang mengandung hikmat, bergerak, berpikir, bertindak, berlaku dan berbuat, yang dalam istilah sekarang disebut taktik, strategi dam diplomasi yang berbau kelincahan dan kelicikan. Al-Qur’an dan al-Hadits telah menentukan batas-batas yang diperbolehkan dan yang tidak, serta memberikan jalan untuk berpikir, bermusyawarah, dan bertindak.
                Adapun uraian pendidikan Islam pada masa Khulafaur Rasyidin adalah sebagai berikut :

a.       Masa  Abu Bakar As-Shiddiq
Masa awal kekhalifahan Abu Bakar diguncang pemberontakan oleh orang-orang murtad, orang-orang yang mengaku sebagai nabi dan orang-orang yang enggan membayar zakat. Oleh karenanya Abu Bakar memusatkan perhatiannya untuk memerangi para pemberontak yang dapat mengacaukan keamanan dan mempengaruhi orang-orang Islam yang masih lemah imannya untuk menyimpang dari ajaran Islam. Dengan demikian, dikirimlah pasukan untuk menumpas para pemberontak di Yamamah. Dalam penumpasan ini banyak umat Islam yang gugur, yang terdiri dari sahabat dekat Rasulullah dan para hafizh al-Qur’an, sehingga mengurangi jumlah sahabat yang hafal al-Qur’an. Umar bin Khattab menyarankan kepada khalifah Abu Bakar untuk mengumpulakn ayat-ayat al-Qur’an, kemudian diutuslah Zaid bin Tsabit untuk mengumpulkan semua tulisan Al-Qur’an. Pola pendidikan pada masa Abu Bakar masih seperti pada masa Nabi, baik dari segi materi maupun lembaga pendidikannya. Dari segi materi pendidikan Islam terdiri dari pendidikan tauhid atau keimanan, akhlak, ibadah, kesehatan, dan lain sebagainya.
·         Pendidikan keimanan, yaitu menanamkan bahwa satu-satunya yang wajib disembah adalah Allah.
  • Pendidikan akhlak, seperti adab masuk rumah orang, sopan santun bertetangga, bargaul dalam masyarakat, dan lain sebagainya. Pendidikan ibadah seperti pelaksanaan shalat puasa dan haji.
  • Kesehatan seperti tentang kebersihan, gerak gerik dalah shalat merupakan didikan untuk memperkuat jasmani dan rohani.
Lembaga untuk belajar membaca menulis ini disebut dengan kuttab. Kuttab merupakan lembaga pendidikan yang dibentuk setelah masjid, selanjutnya dikatakan bahwa kuttab didirikan oleh orang-orang Arab pada masa Abu Bakar dan pusat pembelajaran pada masa ini adalah Madinah, sedangkan yang bertindak sebagai tenaga pendidik adalah para sahabat Rasul yang terdekat. Lembaga pendidikan Islam adalah masjid, masjid dijadikan sebagai benteng pertahanan rohani, tempat pertemuan dan lembaga pendidikan Islam, sebagai tempat shalat berjamaah, membaca Al-Qur’an dan lain sebagainya.

b.       Masa Umar bin Khattab
Situasi politik pada masa khalifah Umar bin Khattab dalam keadaan stabil dan aman,usaha perluasan wilayah Islam luas meliputi Semenanjung Arabia, Palestini, Syiria, irak, Persia dan Mesir. Sehingga pelaksanaan pendidikan saat itu lebih maju. Khalifah Umar memikirkan pendidikan Islam di daerah-daerah yang baru ditaklukkan, oleh karena itu  Khalifah Umar memerintahkan para panglima perangnya, apabila mereka berhasil menguasai satu kota, hendaknya mereka mendirikan Masjid sebagai tempat ibadah dan pendidikan. Untuk keperluan khususnya dalam kaitannya dengan pendidikan. Umar mengangkat dan menunjuk guru-guru setiap daerah yang ditaklukan untuk bertugas mengajarkan isi Al-Qur’an dan ajaran Islam kepada penduduk yang baru
Masuk Islam. Dengan dikuasainya wilayah baru oleh Islam, menyebabkan munculnya keinginan untuk belajar bahasa Arab sebagai pengantar diwilayah-wilayah tersebut. Sehingga pada masa ini terdapat pengajaran bahasa Arab, orang-orang yang baru masuk Islam dari daerah-daerah yang ditaklukkan harus belajar bahasa Arab untuk mempermudah bagi mereka yang ingin belajar dan mendalami pelajaran Islam.
Pada masa ini, materi pelajaran yang diberikan adalah membaca dan menulis Al-Qur’an dan menghafalnya serta belajar pokok-pokok agama Islam. Metode yang dipakai adalah guru duduk di halaman Masjid sedangkan murid melingkarinya. Pendidikan pada masa ini, dikelola di bawah pengaturan gubernur setempat yang berkuasa saat itu, serta diiringi kemajuan di berbagai bidang, seperti jawatan pos, kepolisian, baitul-mal. Pendidik saat itu sudah digaji diambilkan dari daerah yang ditaklukkan dan dari baitul-mal.

c.       Masa Utsman bin Affan
Usman adalah saudagar besar dan kaya dan sangat pemurah menafkahkan kekayaannya untuk kepentingan umat Islam. Pada masa khalifah Usman kedudukan peradaban Islam tidak jauh berbeda demikian juga pendidikan Islam tidak jauh berbeda dengan masa sebelumnya. Pendidikan dimasa ini hanya melanjutkan apa yang telah ada, namun hanya sedikit terjadi perubahan yang mewarnai pendidikan Islam. Para sahabat yang berpengaruh dan dekat dengan Rasulullah yang tidak diperbolehkan meninggalkan Madinah dimasa khalifah Umar, diberikan kelonggaran untuk keluar dan menetap di daerah-daerah yang mereka sukai untuk mengajarkan ilmu-ilmu yang dimiliki. Kebijakan ini sangat besar pengaruhnya bagi pelaksanaan pendidikan di daerah-daerah. Pelaksanaan pola pendidikan masa ini lebih ringan dan lebih mudah dijangkau seluruh peserta didik yang ingin menuntut dan belajar Islam dan dari segi pusat pendidikan juga lebih banyak sebab pada masa ini para sahabat bisa memilih tempat yang mereka inginkan untuk memberikan pendidikan kepada masyarakat.
Usaha yang cemerlang pada masa ini yaitu mengumpulkan tulisan ayat-ayat Al-qur’an. Hal ini dilakukan karena perselisihan dalam membaca Al-Qur’an. Khalifah Utsman membentuk tim penyalinan, tim tersebut adalah : Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Zain binAsh, dan Abdurrahman bin Harits. 
Tugas mendidik dan mengajar umat pada masa itu diserahkan pada umat itu sendiri, maksutnya pemerintah tidak mengangkat guru-guru, dengan demikian para pendidik sendiri melaksanakan tugasnya hanya dengan mengharapkan keridhaan Allah. Pada masa ini tidak banyak terjadi perkembangan pendidikan, dibandingkan masa khalifah umar bin Khatab, karena pada masa khalifah utsman kondisi pemerintah sedang banyak terjadi pergolakan dalam masyarakat sebagai akibat ketidak senangan mereka terhadap kebijakan Utsman yang mengangkat kerabatnya dalam jabatan pemerintah.

d.       Ali bin Abi Thalib
Pada pemerintahan khalifah Ali sudah diguncang peperangan dengan Aisyah (isteri Nabi) beserta Talhah serta Abdullah bin Zubair karena kesalapahaman dalam menyikapi pembunuhan terhadap Usman, peperangan di antara mereka disebut Peperangan Jamal (unta) karena Aisyah menggunakan kendaraan unta. Setelah berhasil mengatasi pemberontakan Aisyah, muncul pemberontakan lain, sehingga masa kekuasaan khalifah Ali tidak pernah mendapatkan ketenangan dan kedamaian.
Muawiyah sebagai gubernur di Damaskus memberontak untuk menggulingkan kekuasannya. Peperangan ini disebut dengan peperangan Shiffin, karena terjadi di Shiffin. Ketika tentara Muawiyah terdesak oleh pasukan Ali, maka Muawiyah segera mengambil siasat untuk menyatakan tahkim (penyelesaian dengan adil dan damai). Semula Ali menolak, tetapi desakan sebagian tentaranya akhirnya Ali menerimanya, namun tahkim malah menimbulkan kekacauan, sebab Muawiyah bersifat curang. Dan dengan tahkim Muawiyah berhasil mengalahkan Ali dan mendirikan pemerintahan tandingan di Damaskus. Sementara itu, sebagian tentara yang menentang keputusan Ali dengan cara tahkim, meninggalkan Ali dan membuat kelompok tersendiri yaitu khawarij.
Berdasarkan uraian di atas, penulis berkesimpulan bahwa pada masa Ali telah terjadi kekacauan dan pemberontakan, sehingga di masa ia berkuasa pemerintahannya tidak stabil. Dengan kericuhan politik pada masa
Ali berkuasa, kegiatan pendidikan Islam mendapat hambatan dan gangguan.
Pada saat itu Ali tidak sempat memikirkan masalah pedidikan sebab keseluruhan perhatiannya ditumpahkan pada masalah keamanan dan kedamaian bagi masyarakat Islam. Namun demikian, pola pendidikan pada masa khulafaur rasyidin tidak jauh berbeda dengan masa Nabi yang menekan pada pengajaran baca tulis dan ajaran-ajaran Islam yang bersumber pada al-Qur’an dan Hadits Nabi.


Oleh : Lutfi Kurniawati








DAFTAR PUSTAKA
Zuhairini, dkk, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta : Bumi Aksara, 2008
http://www.infolizer.com/search/Sistem-pemerintahan-islam-pada-zaman-nabi-muhammad/
http://www.scribd.com/doc/47535205/PENDIDIKAN-ISLAM-ZAMAN-RASULULLAH-DAN-SAHABAT

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar